Tampilkan postingan dengan label My life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Oktober 2021

Me and Covid-19

Bulan Agustus 2021 menjadi bulan spesial bagi saya. Setelah satu setengah tahun Covid 19 menimbulkan pandemi dengan segala dinamika up & down nya, tubuh saya akhirnya berkenalan juga dengan si dia.

29 Juli pagi, ketika bangun tidur saya merasa tidak enak badan dan setelah diukur ternyata benar saya demam. Sesuai dengan aturan rumah sakit jika karyawan mengalami keluhan demam, gejala saluran nafas, atau gejala saluran pencernaan, kami diminta untuk melakukan swab antigen terlebih dahulu. Singkat cerita, saya positif Covid 19 dan harus melakukan isolasi mandiri.


Benar-benar tidak menyangka. Semalam saya masih ikut webinar, masih menerima panggilan telepon, wa-an dengan banyak orang hingga tengah malam, masih menyimpan janji untuk konsultasi, dan pagi harinya saya mendadak punya banyak waktu untuk diri sendiri. Berikut adalah beberapa hal yang saya pikirkan, renungkan, dan lakukan selama duduk diam menunggu pemeriksaan lebih lanjut di poli ISPA :
  1. Mau isoman di mana? Sempat mempertimbangkan isoman di rumah sakit sebagai opsi pertama. Terpisah dari keluarga sehingga memperkecil kemungkinan penularan ke mereka selama isoman. Isoman di rumah daya tariknya adalah saya tetap berada di lingkungan familiar, lebih nyaman secara psikologis, dan saya bisa memantau gejala atau keluhan yang timbul di anggota keluarga yang lain. Akhirnya setelah menimbang-nimbang ditambah dengan saran dari teman-teman, saya memilih isoman di rumah dengan sederet catatan.
  2. Lapor ke mana saja?  Ketika mengabarkan ke suami bahwa saya positif Covid 19, sekalian titip pesan untuk lapor ke RT.  Tugas saya untuk lapor ke Puskesmas. Permasalahannya saya tidak punya kontak person puskesmas wilayah saya sendiri. Yang ada di HP saya adalah CP puskesmas yang ada di sekitar rumah sakit atau yang pernah menghubungi saya untuk satu dua hal yang perlu dikoordinasikan. Tidak masalah, melalui teman-teman puskesmas yang saya kenal, dengan cepat saya mendapat CP petugas puskesmas penanggung jawab wilayah domisili saya. So, jadilah hari itu saya yang proaktif menghubungi dan melapor ke puskesmas.
  3. Bagaimana keluarga saya? Rasa yang langsung timbul  ketika mengetahui swab antigen saya positif adalah kekhawatiran mengenai status anggota keluarga saya yang lain. Bagaimana dengan mereka, apakah mereka negatif atau juga positif Covid 19. Bagaimana jika ada yang positif juga. Bagaimana jika saya dan suami positif sedangkan anak-anak negatif, mau dikemanakan mereka, dan bagaimana mereka selama saya dan suami isoman. Bagaimana jika begini...bagaimana jika begitu... Sudahlah, lebih baik mereka juga cek saja daripada kami bertanya-tanya tidak jelas. Sore itu rencananya suami dan anak-anak akan PCR mengingat mereka masih dalam kondisi sehat segar bugar tanpa gejala sama sekali. Jika swab antigen, kalau hasilnya negatif tetap saja kami akan ragu. Dari mereka berempat, yang paling saya khawatirkan adalah si kecil yang masih menyusu ke saya, tidur dengan saya sehari-harinya. Harapan terakhir saat itu adalah  kebiasaan saya yang selalu bermasker di rumah dapat menyelamatkan mereka. Masa-masa awal pandemi dan ketika terjadi kenaikan angka Covid 19 dapat dibilang saya bermasker 24 jam kecuali saat mandi, makan dan minum. Tapi mengingat saat ini varians yang dominan adalah varians delta, saya pesimis mereka PCR negatif walau berdoa semoga karena viral load yang rendah mereka cukup sampai OTG saja. 
  4. Persiapan tempur di rumah. Selama belum terbukti positif, anggota keluarga harus dianggap negatif. Jadi ketika saya memutuskan untuk isoman di rumah ada aturan strik yang harus ditaati bersama. Tidak boleh ada kontak fisik dalam bentuk apapun antara saya dan anggota keluarga. Ruangan yang saya tempati benar-benar harus terpisah dan tidak ada jalur lalu-lalang saya yang akan bertabrakan dengan jalur yang akan dilalui anggota keluarga lain. Ventilasi baik, tetapi kami harus meminimalisir kebocoran udara dari kamar isolasi ke area dalam rumah. Tidak boleh ada pemakaian barang bersama. 
Persiapan rumah harus segera dilakukan dan harus segera siap, sehingga ketika saya pulang saya bisa langsung masuk ke kamar isolasi saya. Ada untungnya juga kondisi rumah saya saat ini yang masih setengah jadi. Rumah baru ini asalnya adalah 2 ruko lantai 1 yang kami tempati sebagai rumah tinggal. Karena pandemi, kami belum banyak melakukan renovasi perubahan. Ada satu kamar yang kami siapkan di sisi kiri depan sebagai kamar terpisah lengkap dengan kamar mandi dalam walaupun kecil. Kamar ini kami sekat sebenarnya untuk persiapan sekolah tatap muka, untuk jaga-jaga jika nanti ada yang batuk pilek, tapi kok ya akhirnya saya yang pertama kali menggunakannya sebagai kamar isolasi. PR darurat untuk suami dan anak-anak adalah mengeluarkan semua benda yang mereka butuhkan dari kamar itu karena begitu saya masuk tidak ada orang yang boleh memasuki kamar dan / atau  barang yang keluar dari dalam kamar. Kasur bantal guling yang saya gunakan semalam dioper ke kamar ini. Menyiapkan segala printilan kebutuhan hidup di kamar isolasi : peralatan makan minum, masker bedah,  peralatan mandi, deterjen, chlorin, sabun dan perlengkapan cuci piring, pakaian ganti, peralatan bersih-bersih kamar, panci listrik, dan air minum. Kamar isolasi saya memiliki 2 pintu dan 2 jendela. Pintu yang saya gunakan adalah pintu keluar ke teras depan rumah, sedangkan pintu penghubung ke dalam rumah saya kunci dan saya lakban tepinya (sisi sebaliknya juga dilakban). Satu jendela yang berdekatan dengan pintu utama rumah juga saya kunci dan lakban karena di teras depan jendela diletakkan meja kecil tempat makanan saya. Kami juga membeli 2 hepa portable untuk kamar isolasi saya dan kamar tidur dalam. 

Saya pulang, mobil saya parkir di luar pagar dulu di panas matahari, desinfeksi dengan alkohol, semprot desinfektan udara, tutup sebentar lalu buka jendela dan pintu supaya udara berganti. Keluar mobil saya langsung masuk ke kamar isolasi. Mandi keramas, baju saya rendam dengan deterjen dan chlorin, masker bekas pakai juga saya rendam chlorin dulu baru dibuang ke kresek sampah. Semua keperluan dan kegiatan saya lakukan benar-benar terbatas di kamar isolasi, serta nyaris 24 jam menggunakan masker.  Untuk makan minum, gelas/piring/mangkuk saya letakkan di meja kecil di teras, nanti suami akan menuang makan minum saya di situ. Setelah keluar ke teras isolasi, biasanya saya akan menyemprotkan desinfekstan udara sebelum menutup pintu serta jendela, baru sekitar lima belas menit setelahnya  suami keluar untuk meletakkan makanan dan minuman..tentu dengan menggunakan masker. Selesai makan, peralatan saya cuci di kamar mandi supaya siap digunakan lagi. Demikian pula dengan pakaian akan saya rendam dan cuci di kamar mandi lalu saya jemur di depan rumah.  Bersih-bersih dan beberes kamar biasanya saya lakukan 1x sehari atau lebih jika dirasa butuh. Pintu, jendela, meja, atas lemari TV, tempat tidur, serta lantai akan saya lap dengan obat pel yang saya campur chlorin. Bisa dibayangkan banyaknya aktivitas yang dilakukan di kamar mandi mungil itu, tapi demi keamanan semua ya harus dilakukan. Semua sampah yang saya hasilkan apapun itu harus dipastikan telah didisinfektan dengan alkohol dan chlorin, masukkan  ke dalam kresek, semprot alkohol, dobel kresek, dan  semprot alkohol lagi baru dikeluarkan. Setelah saya letakkan di luar, seluruh permukaan kresek saya semprot ulang dengan alkohol, demikin pula semua benda yang saya sentuh seperti pagar, handel pintu, dll. 

Follow up puskesmas juga saya alami. Siang hari setelah saya melaporkan diri, petugas puskesmas menelpon saya menanyakan detail riwayat, keluhan, sudah menerima obat-obatan apa, dan apakah masih ada kebutuhan obat yang belum didapat. Pertanyaan yang sama pun juga diajukan  untuk suami dan anak-anak. Pemeriksaan terhadap suami dan anak-anak sebagai kontak erat saya juga saya komunikasikan dengan puskesmas. Rencananya, jika dari puskesmas tidak ada  pemeriksaan PCR, kami akan cek PCR sendiri. Setelah beberapa kali kontak dan menunggu keputusan puskesmas, saya menerima kabar bahwa suami dan anak-anak akan di PCR oleh puskesmas 4 hari lagi, sekalian menunggu masa inkubasi.

Gejala yang saya alami cukup lengkap. Diawali dengan demam yang muncul pertama dan diikuti dengan sakit kepala, nyeri otot, mual, serta batuk. Demam yang timbul cukup tinggi dan bandel bertahan di 38-39 C, hanya turun sebentar setelah minum obat penurun panas untuk kemudian naik kembali. Dengan adanya mual, nafsu makan otomatis merosot. Namun saya tetap menghabiskan semua makanan dan minuman tambahan (susu, teh jahe, kacang hijau, dll) yang diberikan. Batuk kering tanpa dahak mulai muncul pada hari ketiga, dan anosmia juga tidak luput menghampiri saya sekitar hari kelima. Untungnya indra pengecap saya tidak kehilangan fungsinya, sehingga saya masih bisa merasakan asin manis nya makanan minuman walau tanpa aroma. 

2 Agustus malam, saya mulai merasakan nafas menjadi pendek-pendek dan saturasi oksigen beberapa kali turun di 94% namun masih bisa kembali dan bertahan cukup lama di 95%.  Saya sudah merasa tidak nyaman bermasker karena  ampeg, akibatnya  masker sering saya lepas supaya bisa lebih lega bernafas. Kontak dokter paru, beliau  menyarankan untuk dirawat inap namun akhirnya diputuskan observasi kondisi saya malam itu hingga besok pagi sambil antri ruang isolasi. Beruntung sejak awal saya telah menginformasikan kepada beliau bahwa saya konfirm Covid 19 berikut obat-obatan yang saya terima sehingga ketika terjadi penurunan kondisi seperti ini, saya tidak sungkan menghubungi beliau. Bukan hanya itu, saya juga  melaporkan kondisi tersebut kepada atasan saya dan juga puskesmas.  Malam itu saya tidur dengan posisi proning, berharap esok pagi kondisi akan lebih baik. 

Keesokan harinya, subuh saat bangun tidur, hal pertama yang saya rasakan adalah tubuh yang basah dengan keringat dan dada yang terasa berat. Ambil oxymeter, saya mengukur saturasi oksigen. Dag-dig-dug menunggu angka muncul di layar. Mak deg rasanya saat angka pertama yang terbaca di indikator saturasi ada di kepala delapan, saya lepas, saya pasang lagi di jari lain hingga akhirnya nilai saturasi yang paling sering muncul berkisar di 91-92, kadang di 93. Sambil menunggu waktu saya mencoba berubah posisi, menarik nafas dalam, namun saturasi tetap berada di kisaran 92. Dengan berat hati  saya melaporkan penurunan saturasi kepada dokter paru  dan  instruksi rawat inap tidak bisa dihindarkan, demikian pula direktur saya yang sudah gelisah dari semalam. Saya kontak puskesmas untuk melaporkan perkembangan terbaru dan meminta bantuan mereka untuk mengantar saya ke rumah sakit, dan juga menghubungi IGD mengabarkan bahwa saya jadi rawat inap. 

Selesai sarapan saya mandi, menyempatkan diri untuk keramas dulu karena  tidak tahu kapan saya bisa keramas lagi. Cuci baju yang sudah saya rendam di kamar mandi, beberes kamar isolasi, dan packing tentunya. Kegiatan rutin yang rasanya sepele di saat sehat sudah terasa berat. Saya berulang kali  berhenti karena harus menata nafas yang tersengal. Oleh suami baju-baju saya diletakkan di teras, saya ambil dan pilah untuk dibawa ke rumah sakit. Juga kebutuhan pribadi seperti handuk, perlengkapan mandi, sisir, masker bedah, dan printilan lain.  Dijemput ambulans puskesmas sekitar pukul 10 pagi, dan hari itu untuk pertama kali nya saya naik ambulans sebagai pasien. 

Sampai di IGD saya masuk ke ruang airborne (ruang khusus di IGD yang digunakan untuk pasien-pasien Covid 19). Sama seperti tadi pagi, saturasi pertama yang muncul adalah di kepala delapan, dan setelah  menunggu beberapa lama untungnya tetap mau naik ke kepala sembilan. Oksigen dipasang, infus, foto dada ulang, swab PCR, ambil darah, masukkan beberapa obat, dan kembali saya harus naik ambulans. Kali ini ambulans rumah sakit untuk diantar ke ruang isolasi. Pengantaran pasien rawat inap Covid 19 memang agak spesial karena menggunakan ambulans, keluar ke jalan raya memutari rumah sakit, masuk melalui gerbang satunya di sisi gedung yang berbeda untuk bisa mengakses ruang isolasi Covid 19.  Pertanyaan pertama yang terbersit di kepala saat dipindahkan ke tempat tidur ruangan adalah berapa lama saya akan menghuni kamar ini...

Kamar isolasi darurat tempat saya dirawat

Begitulah,  sejak tgl 3 Agustus 2021 siang saya dirawat di ruang isolasi Covid 19. Bed rest total, tidak boleh turun  tempat tidur, termasuk untuk keperluan BAB /BAK harus dilakukan di atas tempat tidur. Saya tidak mau menyalakan AC karena saya kedinginan ditambah badan ini selalu basah oleh kucuran keringat. Hari-hari awal dirawat saya susah tidur karena setiap kali memejamkan mata, dalam kondisi setengah tidur selalu ada sensasi aneh. Terasa digoyang-goyang serta badan seperti dipukul dan ditarik-tarik...tidak nyaman. Jika saya bisa bertahan ya lanjut terlelap, tetapi jika tidak tahan dan membuka mata...sensasi itu hilang tapi saya batal tidur. Untuk tidur, posisi paling nyaman sebenarnya  tengkurap... dada rasanya paling ringan dan batuk juga paling minimal.  Saya bisa bertahan bahkan tertidur dalam posisi ini dalam hitungan jam... hanya ya itu, kelemahannya ada di leher... kemeng, ngilu jika terlalu lama tengkurap. Posisi lain yang cukup nyaman adalah tidur dengan posisi kepala agak tinggi. Jika rebahan dengan bantal rendah, miring kiri maupun kanan rasanya sesak dan batuk akan terpicu. Demikian juga dengan perubahan posisi dari berbaring ke duduk, pasti akan memicu batuk yang ngekel dan ujung-ujungnya dada terasa ampeg.

Dirawat di ruang isolasi Covid 19 tanpa ada keluarga yang menunggu, tidak diperkenankan untuk turun tempat tidur, dan tidak bisa melepas asupan oksigen membuat saya menjadi amat bergantung kepada teman-teman perawat. Mandi, membersihkan diri setelah BAK / BAB, bahkan berganti pakaian pun, saya membutuhkan bantuan mereka. Setiap pagi dan sore saya diseka, diganti pakaiannya, pampers, serta linen teratas tempat tidur. Sekali dalam sehari (biasanya siang hari), petugas linen akan mengganti seluruh linen tempat tidur dan sarung bantal. Jika saya beruntung,  saya terkadang mendapat bonus berupa ekstra seka dan berganti pakaian. Lumayan menyegarkan badan yang berkeringat. Persoalan BAK juga merepotkan. Walau sudah mengenakan pampers tetap saja setiap kali BAK harus diganti karena penuh bahkan sering sampai merembes membasahi pakaian dan sprei tempat tidur. Mungkin karena sudah hafal, tidak jarang jika perawat saya kontak untuk mengganti pampers mereka datang sudah dengan membawa pakaian dan linen ganti. Jika dihitung-hitung cukup sering frekwensi perawat masuk ke ruang perawatan. Mulai dari mengantar dokter paru visite, mengukur tanda vital, kontrol infus, memasukkan obat (belum kalau obatnya didrip botol kecil), mengantar dan mengambil makanan, seka, membantu saya setiap kali BAB/BAK, dan mengantar titipan-titipan dari keluarga atau sahabat-sahabat. Beberapa kali di hari awal perawatan, mereka menawarkan diri untuk menyuapi saya, hanya saya tolak karena masih sanggup melakukannya sendiri. Juga supaya lebih nyaman saja ketika saya harus berhenti sebentar untuk meredakan mual. Dengan kondisi perawatan seperti itu, saya tidak terlalu merasa kesepian dan terisolasi karena masih ada orang yang kontak dengan saya...hanya penampilannya saja yang berbeda dibandingkan ruang perawatan biasa terkait hazmat dan APD lain yang dikenakan. Berbagai macam nuansa teman perawat, mereka dengan tampilannya masing-masing. Ada yang formal, ada yang bersemangat tinggi sehingga ketika dia yang masuk ke kamar kesannya jadi meriah, ada yang gemar bercerita, ada yang berjalan mengendap-ngendap ketika kontrol infus karena tidak ingin saya terbangun (padahal saya belum tertidur hehehe). Membayangkan sekian banyak pasien seperti saya yang harus mereka layani, dan banyak diantaranya dengan kondisi yang lebih buruk hingga membutuhkan pendampingan lebih. 

Benar-benar luar biasa Covid ini. Seumur hidup, baru kali ini saya mengalami sakit yang mengharuskan mendapat terapi dalam jumlah banyak. Setiap hari ada banyak obat yang harus saya minum, disuntikkan, atau dimasukkan melalui infus. Mungkin karena itu juga, usia infus saya tidak pernah panjang. Kurang lebih dua hari sekali saya harus ditusuk ulang untuk memindah jalur infus yang bengkak atau macet. Bahkan beberapa jam sebelum saya boleh pulang saya masih harus ditusuk ulang karena infus macet ditengah perjalanan drip obat terakhir. Demikian pula untuk pemeriksaan laboratorium. Ada banyak pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan dan sebagian diantaranya memerlukan pengecekkan ulang. Kasihan juga melihat teman-teman analis yang membolak-balik tangan saya untuk mencari area yang bisa dijadikan sasaran tusukan mengambil sampel darah. Selama dirawat, dua kali saya harus difoto dada ulang untuk melihat perkembangan paru, juga hidung tenggorokan tidak luput diswab ulang untuk evaluasi PCR. 

BAB pun bisa menjadi problem besar bagi saya. Susah sekali mensugesti otot dubur untuk mau membuka agar si pup bisa keluar, ditambah efek samping obat batuk yang memang mempersulit BAB. Jangankan untuk BAB, BAK saja saya tidak bisa melakukannya dengan posisi tidur. Minimal saya harus duduk di  tempat tidur, baru bisa keluar. Setiap kali perut terasa mulas, berbagai posisi sudah saya coba agar pup bisa keluar mulai dari duduk, berlutut, jongkok, bahkan merayap turun ke lantai sebelah bed. Kadang saya berhasil BAB walau tidak banyak, namun lebih sering gagalnya hanya dapat gobyos keringat. Puncak kisruh perBAB-an ini  adalah saya merasa sakit perut terus-menerus. Mules banget, makan tidak enak, tidur tidak bisa. Tengah malam terpaksa saya ngrepoti teman-teman perawat dan membuat kehebohan karena urusan pup ini. Untuk membantu bisa BAB, malam itu saya diijinkan ke kamar mandi dengan tetap menggunakan oksigen, ditemani perawat. Tetap tidak berhasil, malah darah yang merembes karena si ambeien ikutan beraksi. Setengah dua dini hari akhirnya dimasukkanlah pencahar dari dubur yang menyebabkan saya nangis-nangis karena nyeri dan si obat ini ternyata tidak bisa mulus masuk, sebagian mengalir keluar kembali saking kerasnya pup di dalam sana. Jam dua lebih dini hari drama kamar kecil ini berakhir, saya bisa BAB. Setelah membersihkan diri, diganti pakaian, saya akhirnya bisa tidur walau hanya sebentar karena sekitar jam lima saya sudah dibangunkan untuk seka dan kontrol tanda vital.

Kontak dengan keluarga otomatis hanya bisa dilakukan via WA, telepon atau videocall. Durasi telepon biasanya singkat karena nafas yang belum bersahabat untuk bicara. Kabar menggembirakan mengenai kondisi keluarga saya terima dari Puskesmas di hari kedua rawat inap. Hasil PCR suami dan anak-anak yang dikirimkan via WA menginfokan bahwa mereka semua negatif Covid19. Legaa rasanya karena saya sama sekali tidak menyangka mereka semua negatif. Terbayar sudah upaya saya melindungi mereka dengan tetap memakai masker di rumah selama puncak gelombang kedua ini, dan yang pasti tidak bisa dilepaskan dari  perindunganNya yang luar biasa kepada keluarga kami. Selama saya dirawat di ruang isolasi, suami mendapatkan laporan perkembangan kondisi  melalui WA dari perawat ruangan di setiap shiftnya. Pernah dia merasa khawatir karena saya tidak membalas WA hingga malam, sampai akhirnya kontak ruangan, dan dijawab bahwa saya tidur sambil dikirim foto saya dari layar cctv.  

Hingga saat ini saya pun masih tidak bisa memastikan kapan, dimana, bagaimana saya tertular Covid 19. Saya bukan orang yang menyepelekan Covid 19. Saat harus membantu di pelayanan APD lengkap saya pakai, tidak pernah makan bersama, cuci tangan juga sudah tidak terhitung. Namun, pasti ada titik lengah yang saya lewati sehingga akhirnya benteng pertahanan ambruk juga. Apakah saat saya mundur dari tempat pelayanan untuk minum sehingga saya lepas masker? Walau tidak ada orang di ruangan tersebut, kita tidak pernah tahu kondisi udara nya. Apapun, harus semangat lebih ketat lagi prokes dari yang sudah-sudah. Masih terheran-heran juga bahwa saya akhirnya jatuh ke kondisi berat sampai membutuhkan rawat inap, meleset dari keyakinan awal bahwa saya cukup isoman saja. Usia belum lansia, tidak ada komorbid, vaksin lengkap dua dosis, tidak obesitas juga. Satu hal yang saya yakini, seandainya saat saya tertular saya belum vaksin, mungkin kondisi saya akan jauh lebih buruk. Dari penjelasan dokter yang merawat, saya harus bersyukur bahwa paru-paru dan tubuh saya saat itu merespon oksigen dan obat-obatan dengan baik sehingga tidak terjadi perburukan kondisi selama perawatan. 

Sangat besar kasih Tuhan pada saya saat itu. Semua yang saya butuhkan untuk sembuh disediakan dengan caraNya. Banyak sekali cinta yang saya rasakan dari orang-orang disekitar saya, bahkan dari mereka yang jauh atau jarang berhubungan. Keluarga pasti. Tapi disamping mereka, masih ada dokter paru dan perawat yang menangani saya, atasan, teman-teman rumah sakit, teman sekolah, sahabat, bahkan mereka yang hanya sekedar mengenal saya. Tiada hujan tiada angin, beberapa orang tetiba menghubungi saya walau selama ini mereka bukanlah yang rutin berkomunikasi dengan saya...bahkan ada yang bertemu fisikpun belum pernah. Ketika saya tanya kenapa kok tiba-tiba kontak, jawabannya sama : "Entahlah, tiba-tiba ingin nelpon..ingin wa". Membaca atau mendengar jawaban ini ada rasa hangat di dalam hati dan mau tidak mau saya jadi tersenyum sendiri.

Demi menjaga agar saya tidak stres dan turun kondisi, ada kesepakatan tidak tertulis untuk tidak memberitahu saya kondisi yang sesungguhnya. Sebenarnya saya sempat curiga karena beberapa kali bertanya mengenai hasil foto dan laboratorium tidak dijawab, hanya saja saat itu saya sendiri juga berniat untuk tidak berfikir apa-apa dan menyerahkan sepenuhnya kepada dokter paru yang merawat saya. Beliau bilang oke saya oke, beliau berkata jangan sayapun akan mengikuti. Saya sempat sampaikan bahwa untuk kali ini saya minta ijin manja kepada beliau. Dua labu plasma konvalesen yang dibutuhkan dapat diperoleh walaupun dari luar kota. Demikian pula Actemra, obat yang pada masa itu menjadi sasaran perburuan tingkat tinggi karena sulit didapat. Awalnya saya tidak tahu menahu sama sekali mengenai pontang pantingnya rekan-rekan saya mencari Actemra. Secara tidak sengaja saya membaca di whatsapp group (sepertinya mereka lupa saya belum dikeluarkan dari wag) mengenai koordinasi pencarian Actemra yang akhirnya diperoleh dari salah satu rumah sakit di Solo. Sempat tertegun ketika membaca teman-teman Solo memutuskan untuk mengantar obat tersebut ke Malang alih-alih menunggu driver Malang mengambil ke Solo. Dari situ pula saya menerka bahwa indikator laboratorium saya kacau balau. Campur aduk rasanya membaca semua itu...

Setiap hari, saya selalu menantikan kedatangan dokter paru yang merawat saya. Senang saja rasanya melihat dan mendengar suara beliau. Pernah suatu malam saya bertahan untuk tidak tidur dulu karena menunggu kedatangannya di jam-jam kebiasaan visite. Di saat saya menyerah karena berfikir mungkin hari ini tidak datang dan berancang-ancang tidur, beliau muncul. Seperti anak kecil entah mengapa saya merasa bahagia. Sempat terselip rasa bersalah karena beliau tergesa-gesa ke ruangan saya begitu melihat dari cctv saya sudah bersiap-siap tidur. Jauh setelahnya  ketika saya sudah lebih sehat, saya  mendapat cerita betapa  beliau khawatir dengan kondisi saya, juga takut saya drop ketika mengetahui pasien-pasien lain silih berganti meninggal dunia. 
Demikian pula kasih sayang atasan saya terasa sekali saat itu. Beliau yang mengambil alih peran keluarga untuk memberikan persetujuan tindakan medis yang dilakukan ke saya. Beliau yang menjadi sasaran banyak orang yang menanyakan kondisi saya, beliau yang mengirimi saya lagu-lagu untuk diputar di kamar isolasi, dan yang rutin mengirim wa menanyakan kabar tetapi menolak dihubungkan via telepon ketika melihat saya melalui cctv ruang perawatan karena takut tidak mampu menahan emosi. 
Ada lebih banyak lagi kisah mengenai  kekhawatiran dan perhatian beliau berdua kepada saya yang diceritakan oleh orang-orang di sekitar saya. Ketika mendengar semua  ini, seandainya saat ini bukan masa pandemi, ingin rasanya memeluk erat sebagai tanda terima kasih.

Banyak kiriman susu, roti, makanan berat maupun kecil, kaldu daging, kaldu kutuk, rangkaian bunga yang cantik, bahkan permasalahan BAB saya menyebabkan aliran buah-buahan dan salad. Begitu banyaknya hingga saya tidak mampu menghabiskan semua, apalagi makanan yang tidak tahan lama. Beberapa kali saya meminta tolong untuk dibagikan ke pasien lain yang mau dan boleh. Hal sederhana seperti titipan setermos teh panas rasanya luar biasa manis di hati. Begitu juga kiriman segelas ramuan jahe dari teman-teman instalasi gizi..sparkling.

Salah satu memo yang mampir ke tempat tidur saya 

Genap tiga belas hari saya harus menghabiskan waktu di ruang rawat inap. Hari demi hari kondisi saya membaik. Saya yang semula kedinginan mulai merasa kepanasan sehingga meminta AC ruangan untuk dinyalakan. Oksigen perlahan diturunkan dengan segala dinamikanya. Kadang saturasi turun lagi sehingga oksigen terpaksa dinaikkan kembali hingga stabil dan saya harus kembali bersabar  menunggu aman untuk diturunkan. Kegembiraan yang luar biasa ketika saya diijinkan untuk turun ke toilet, mandi dan keramas. Belajar disapih dari oksigen yang semakin hari durasinya semakin lama. Belajar berjalan di sekitar tempat tidur hingga boleh berkeliling kamar. Belajar bersahabat dengan batuk yang ngekel setelah saya berhenti meminum obat batuk, dan belajar bersabar untuk menantikan ijin pulang. 
Tgl 15 Agustus 2021 akhirnya saya boleh pulang setelah menyelesaikan infus obat terakhir dan dijemput petugas puskesmas. Sepanjang perjalanan pulang saya merasa amazing bisa melihat jalanan lagi, langit sore dan hembusan angin, dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk boleh bernafas dan pulang ke rumah dalam kondisi yang lebih baik.

Di rumah, di dalam kamar isolasi, untuk pertama kalinya saya mengetahui hasil foto dan laboratorium selama rawat inap. Merinding rasanya melihat gambaran foto paru di awal saya masuk rumah sakit yang dipenuhi bercak bercak putih, juga nilai laboratorium yang kacau. 
Pada akhirnya, pengalaman dua minggu di rumah sakit karena infeksi Covid 19 bukanlah pengalaman menyenangkan yang bisa dirindukan, tetapi masa itu menunjukkan kepada saya besarnya kasih Tuhan kepada saya melalui banyak tangan disekitar saya.




đź’–Terima kasih banyak atas segala doa, dukungan, dan bantuan yang diberikan kepada saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga kita semua selalu dalam perlindunganNyađź’–









Senin, 20 Februari 2017

MPO-Kementerian Kesehatan RI



Akhir tahun 2016, rumah sakit tempat saya bekerja memenangkan salah satu perlombaan yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI alam rangka Hari Kesehatan Nasional. Sebagai wujud penghargaan, rumah sakit diundang untuk menerima piagam di Kementerian Kesehatan Jakarta tgl 14 November 2016.
Direktur mengajak beberapa orang untuk ikut pergi ke Jakarta, dengan syarat mengenakan pakaian nasional.  Awalnya saya agak ragu untuk ikut karena kebaya yang saya punya itu tidak ada yang model  formil dan semuanya dari brokat (baca : bolong-bolong nerawang gitu deh) karena saya tidak pernah menjahitkan kebaya kecuali dapat seragam untuk pesta. Laaa...ini kan acara formal, apa ya pantas memakai model kebaya resepsi.  Kepikir mau beli kebaya encim...tapi setelah ditimbang-timbang nggak jadi...eman..cuma satu kali pakai setelah itu jadi penghuni lemari. Sempat juga keliling tempat persewaan kebaya di Malang, tapi modelnya tidak berbeda jauh dengan kebaya milik saya (kebanyakan kebaya  sewa juga dibuat dari kain tile / brokat berpayet) dan tidak murah juga lho..

Akhirnya saya memutuskan untuk memakai kebaya saya sendiri yang tidak berpayet...dan itu berarti lengan pendek...hihihihi biar saja wis...bodo amat.
Sebagai cadangan kalau nanti ternyata saya tidak percaya diri menghadiri acara formal dengan kebaya pesta, saya bawa juga blus yang memiliki model mirip kebaya beserta  rok batik. Entah mana nanti yang kepakai, tunggu wangsit dulu.  Jangan dibayangkan blus apaan yaaa... ini blus biasa warna coklat susu hanya di leher dan bagian depan diberi renda sehingga mirip kebaya encim (sepintas tapi).

Kami menginap semalam di Hotel Harris Tebet karena tanggal 14 November pagi, kami berempat sudah harus siap di salon pukul enam pagi untuk dirias.
Note : Akhirnya saya memakai kebaya pesta. Soalnya dr Cecil juga membawa kebaya brokat dan minta ditemani wkwkwkwkwk....
 
 
 










 Jarang-jarang lho saya make up lengkap  dengan hair do kayak begini, dan sebagai akibatnya banyak anak-anak saya di rumah sakit yang tidak mampu mengenali mbok-nya dengan cepat (hihihihi)...
Selesai acara, kami kembali ke hotel, istirahat sebentar, mandi-mandi dan pulang ke Malang. Eittsss...dr Lilik dan dr Cecil  ditinggal di Jakarta karena lanjut acara dengan Kemenkes (tapi lain bidang).

Rabu, 15 Juni 2016

Wangi Parfum

Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi ingiin sekali memakai parfum. Padahal seumur hidup belum pernah dan nggak kenal juga dengan segala macam wangi-wangian yang berupa parfum.

Ketika sekolah (lupa mulai kapan ya kenal dunia wewangian), yang saya ingat saya hanya memakai deodorant saja dan paling banter saat kelas 3 SMU memakai Pucelle body mist. Hmmm favorit saya waktu itu adalah roll on Rexona talas yang warna Pink... jatuh baunya enak sekali di badan saya walaupun sedang basah keringat sehabis olah raga. 
Masa kuliah apalagi...berhubung status sebagai anak kos mana pernah terpikir membeli parfum. Deodorant saja cukuplah, yang penting tidak sampai BB. Kalau dipikir-pikir diantara sekian banyak teman kuliah saya pasti banyak yang memakai parfum, tapi ya itu..saya tidak perhatian. 
Teman sekamar di asrama semasa kuliah adalah  agen dari Avon, dan salah satu produk Avon adalah parfum. Ketika teman saya itu sedang spray-spray parfumnya dan kebetulan saya  ada di kamar, juga nggak muncul tuh dorongan hasrat untuk kepingin. Hehehehe...cuma mbatin saja : wanginya enak (sepertinya selera kami sama karena saya tidak pernah terganggu dengan wangi parfumnya).

Memasuki dunia kerja, keinginan untuk meninggalkan jejak aroma wangi dari tubuh saya juga nggak muncul. Hampir 10 tahun saya bekerja, pakainya ya deodorant saja tanpa disertai cologne atau body mist atau apalah yang lain. Pemilihan deodorantpun juga selalu saya upayakan yang hampir-hampir tidak berbau (ga nemu lagi aroma deodorant yang saya suka seperti Rexona talas pink semasa SMU dulu).
Demikian pula kisah yang sama berlanjut saat pacaran dan setelah menikah, ditunjang suami  bukan penggemar parfum serta tidak pernah komplain karena saya nggak ada wangi-wanginya sama sekali....hihihihi 
Selama ini saya benar-benar nggak ngeh dengan wangi parfum, secara hidung saya paling cepat bereaksi dengan bau asap rokok (numero uno deh sampai sekarang), bau badan yang bikin mual, atau bau parfum yang kelewat kuat sampai  mencekik leher dan memenuhi satu aula gedhe...

Naahh baru  sekitar 1 tahun terakhir ini saya mulai menyadari bau-bauan parfum yang ditinggalkan orang-orang sekitar saya. Ooo ini bau parfumnya si A, kalau ini wanginya si B de es te...
Saya juga mulai memperhatikan mana bau parfum yang saya suka mana yang  tidak. Saya jadi perhatian bahwa aroma parfum seseorang bisa berubah ketika seseorang berkeringat. Yang awalnya beraroma enak di pagi hari, jadi bikin eneg di siang hari..padahal sebelumnya hanya berpikir bahwa bau badan si A atau si B emang nggak enak (titik).

Moment kepergian saya ke Singapura 1 tahun yang lalu adalah pertama kali saya membeli parfum (eau de parfum), tetapi bukan untuk dipakai sendiri. Parfum itu saya beli sebagai buah tangan buat mama, dan beruntung sekali mama suka dengan aromanya.
Kenangan masa kecil saya hanya memunculkan memori akan 1 botol parfum berwarna kuning gading kecoklatan dengan tutup metalik, hadiah dari papa untuk mama. Saya ingat karena saya dan Dedi kadang sembunyi-sembunyi mengambil beberapa spray untuk bermain (astaga itu parfum yang saya buat main semprot-semprot sama Dedi merk apa ya? hihihi)

Dua tiga bulan terakhir inilah saya mulai merasakan keinginan untuk memakai parfum...so... pamitlah kepada my hubby : Boleh nggak aku beli parfum? 
Iyessss...jawabannya boleh, yang artinya suami tidak keberatan saya berubah aroma (inget loh, dia bukan penggemar wangi-wangian).
Buta akan dunia parfum, datang ke Center Point (kompleks MOG) crut sana crut sini dan menemukan 1 parfum yang saya suka saat itu. Setelah saya tanya harga ..gleg!! 700ribu-an...saya mundur cantik karena nggak yakin siap mental mau beli parfum harga segitu (jujur saja saya nggak tahu harga parfum bisa mahal banget---iihhh ndeso ya)
Melipir ke counter lain, saya menemukan 1 parfum yang katanya brand lokal, dengan harga cuma seperempatnya, serta memiliki aroma yang saya suka...ya sudah saya ambil : Parfum pertama saya.
Hasilnya? Saya kecewa saudara-saudara. Aromanya sih tetap enak setelah dipakai, tetapi cuma bertahan 2 jam saja di badan saya. Hiks apa bedanya donk dengan cologne padahal dikemasannya tertulis eau de parfum? Akhirnya si parfum pertama ini seringnya saya pakai kalau mau bobok (hihihi).
Berkaca  dari pengalaman, akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari dulu dunia per-parfum-an, dan inilah yang saya pelajari
  1.  Saya baru tahu harga parfum memang ada yang mahal, bahkan sampai jutaan...(hiks)
  2. Aroma parfum terdiri dari top note, middle note, dan base note. Cocok dengan top note belum tentu cocok dengan base note-nya. Syukurlah saya tidak kalap membeli parfum 700 ribuan itu, karena saat itu saya hanya mencium aroma parfum yang disemprotkan ke kertas.  Pelajaran penting : kalau mau beli parfum coba spray di kertas dulu untuk menyaring aroma, kemudian cobakan di badan (lengan atau tempat lainnya). Kalau tetap suka, jangan terburu-buru beli... bawa jalan-jalan dulu kalau perlu bawa pulang untuk melihat aroma akhir yang keluar setelah  blend dengan aroma tubuh juga menilai sekuat apa ketahanan aromanya.
  3.  Saya jadi terbiasa mengecek aroma parfum di web-nya Fragantica
  4. Saya jadi kenal dengan yang namanya vial (sample parfum dalam botol super mini biasanya 1-2ml) atau decant parfum (decant adalah proses memindahkan cairan parfum dari botol originalnya ke botol yang lebih kecil, biasanya ukuran  10ml) : hmmm bisa jadi jalan keluar kalau cocok dengan aroma parfum tertentu tetapi terbentur dengan harga yang selangit.
  5. Jadi ngeh tentang tempat-tempat pembelian vial dan decant parfum online yang terpercaya (nggak sampai ditipu dengan parfum palsu / kw)
Setelah mencoba beberapa vial / decant / sekedar spray di counter, baru ini merasa ternyata susah juga menemukan parfum yang benar-benar cocok dengan selera atau chemistry badan.
  1. Bvlgari rose essentielle : hmmm nggak suka, aromanya terlalu dewasa (kayak saya masih muda saja) dan powdery eneg.
  2. Bvlgari mon jasmine noir : nggak suka, mual, yacks. Aneh menusuk di hidung saya.
  3. Elisabeth Arden Green Tea :  aromanya fresh tapi nggak terlalu istimwewa,  juga nggak tahan lama di badan saya. Hanya bertahan 2-3 jam setelah itu hilang tak berbekas.
  4. J Lo Glow : Lumayan suka dengan aroma parfum ini karena membangkitkan kenangan di masa lampau yang sampai saat inipun tidak berhasil saya ingat. Tidak bisa pakai terlalu banyak, maksimal hanya 2-3 spray karena kalau lebih saya bisa pusing. Ketahanan aroma di tubuh saya cukup baik karena saya pakai jam 6 pagi, jam 4 sore saya masih bisa mencium aromanya di kulit saya (emmmm...lama-lama aroma parfum ini terkesan bersih di hidung saya, seperti baru mandi hehehe)
  5. J Lo Still : aromanya teh melati banget (serasa mandi teh). Satu-satunya parfum yang dikomentari enak dengan suami. Sama dengan J Lo Glow, saya tidak bisa terlalu banyak memakai parfum ini. Jika kebanyakan, efeknya bukan fresh lagi melainkan maniiss yang bisa membuat saya eneg. Ketahanan aroma lumayanlah, spray jam 6 pagi, jam 12 siang baru pudar.
  6. Issey Miyake woman  : aroma oke lah ..masih bisa saya pakai dengan nyaman walau bukan my fav. Ketahanan aroma baik karena bisa bertahan 6-7 jam.
  7. Elie Saab Rose Couture : Saya suka dengan aroma akhir yang timbul setelah blend dengan chemistry tubuh saya. Lembut, dan ajaibnya tidak membuat eneg sama sekali padahal ada unsur manis dari karamelnya (biasanya unsur manis di parfum selalu sukses membuat saya kliyengan dan mual). Ketahanan aroma luar biasa. Spray jam 6 pagi, jam 6 sore sebelum mandi saya masih bisa menciumnya samar-samar (belum mencoba menunda mandi untuk tahu berapa jam lagi aroma parfum ini benar-benar hilang). Kelemahan : nahan nafas sedikit di aroma awalnya karena cukup manis.
  8. Chloe EDT (versi 2015) : spray pertama saya agak mengernyitkan hidung, haduuh baunya kok gini ya, tapi harus diakui unik. Baru di percobaan kedua saya jatuh cinta.....aroma akhirnya ternyata enaaaaaakkk banget di badan saya, bener-bener suka. Daya tahan parfum ini cukup mencengangkan. Karena EDT, saya sudah menduga tidak tahan lama, tetapi saya spray jam 6 pagi... jam 3 sore saya masih dapat dengan mudah mencium  wanginya. Jadi bertanya-tanya yang Chloe EDP seperti apa ya daya tahan-nya, juga apakah kira-kira saya akan lebih menyukai yang versi EDP karena absennya aroma musk di Chloe EDP?
  9. Lanvin Jeanne :  saya tertarik mencobanya karena banyak komentar / review positif akan parfum ini, dan juga karena adanya note berry yang cukup menonjol. Dipikir-pikir aroma yang saya coba rata-rata floral semua, ga ada yang note buahnya cukup menonjol kecuali Chloe (aroma leci lumayan kecium)...Karena saya suka dengan aroma Chloe, siapa tahu mungkin hidung saya memang lebih cocok dengan  aroma floral fruity. Wangi awalnya lucu dan menyenangkan dengan aroma berry cukup  menonjol. Ketahanan aroma baik. Spray jam 6 pagi jam 3 sore masih tercium tanpa saya harus mengendus-endus dekat kulit. Sayang saya tidak suka dengan aroma akhirnya, mual..
  10.  Chloe L'eau : enaak sekali aroma base-nya. Entahlah, saya tidak bisa menggambarkan tetapi rasanya seperti ada di padang rumput...wanginya fresh. Kekuatan aroma lebih lembut daripada Chloe EDT, namun tidak bertahan lama di kulit..hanya sampai tengah hari saja. Tapi, di baju aweet banget. Saya spray sore hari, besok siangnya saya masih dapat mencium wangi si Chloe ini di sweater saya.
  11. Chloe rose (EDT) : aroma mawar yang ringan, fresh, tidak asem atau eneg. Hanya sayang, sepertinya daya tahan aroma di kulit saya tidak sebaik Chloe EDT karena hanya mampu bertahan dari dari pagi sampai jam 1-2 siang.
  12. Chloe Love : saya suka sekali dengan parfum ini...powdery floral dan awet di kulit saya. Spray dari pagi, aromanya masih tercium hingga malam hari. Varian Chloe yang paling saya suka.
  13. Cloe Love Intense : mirip dengan Love original tetapi di kulit saya menonjol pedasnya (balsamic ya?), akhirnya sering saya pakai untuk parfum malam hari. Jauh lebih suka Love original. 
  14. Chloe love eau Florale : powdery tapi juga dominan white floral, enak juga. Daya tahan luar biasa, bertahan dari pagi sampai malam.
  15. Chloe Love Story: Saya tidak suka...aromanya terlalu kuat dan tajam dari awal sampai akhir, kadang mengingatkan saya pada Issey Miyake. Nggak ada powdery nya sama sekali.
  16. Jo Malone English Pear and Freesia : infonya , ini adalah varian Jo Malone yang best seller, dan ternyata saya juga sukaaa. Wanginya unik, belum pernah cium aroma ini dan sayangnya saya juga tidak pandai menggambarkan..pokoknya suka. Daya tahan luar biasa untuk ukuran cologne, karena saya pakai pagi sampai sore sekitar jam 6 masih tercium. Saya irit-irit makainya. Decant jarang yang jual, full bottle luar biasa mahal...
  17. Giorgio Armani Si : mmmm...di kulit dan hidung saya mirip sekali dengan Elie Saab Rose Couture hanya sedikit lebih fresh. Tidak tecium aroma vanila sama sekali..
  18. Giorgio Armani sun di Gioia : bagaimana ya menjelaskannya...ini adalah parfum dengan nuansa hangat di kulit saya tetapi wearable untuk siang hari. Parfum vanila yang dapat diterima oleh hidung saya hehehe...
  19. Vera Wang Princess : bener-bener aroma vanila mendominasi, sweet banget...dan sukses membuat saya kliyengan plus mual. Untung waktu itu cuma beli decant bontot 2ml. Masih utuh di lemari.
  20. Acqua di Parma Rosa Nobile : aroma rose nya lembuut dan tidak asem. Enak dipakai sehari-hari, dengan daya tahan lumayan (pagi sampai sore)
  21. Cartier Baiser Vole : parfum ini aromanya Lili banget...bener-bener seperti mencium bunga lili. Mengenakan parfum ini selalu mengingatkan saya pada wedding day..aromanya membuat saya teringat wangi bunga lili dari hand bouquet yang saya bawa saat melangkah ke altar.
  22.  Extatic Pierre Balmain EDT : parfum aroma rose-musky yang lembut. Enak dipakai sehari-hari, dan saya suka menyemprotkan di syal / pasmina jika akan bepergian. Aromanya akan awet di sana sampai beberapa hari...
  23. Chanel No.5  L eau dan Chanel No.5 eau Premiere : aromanya enaaakkk dan saya sukaaa. Floral lembut tapi awet buanget. Saya belum pernah mencoba Chanel No.5 versi original, karena katanya aroma versi original berat dan seperti oma-oma. No.5 versi L eau dan Premiere katanya sih mirip dengan versi original tetapi lebih ringan dan modern... sayang full bottlenya mahal sekali, jadi decant Chanel hanya saya pakai untuk acara spesial.
  24. Marc Jcobs Daisy eau so fresh : nggak cocok di kulit saya sehingga aroma akhirnya malah tercium asam. Satu vial kecil sampai sekarang juga ga habis...
  25. Bvlgari Omnia Coral dan Omnia Paraiba : ga sukaa...eneg lama-lama. Untung cuma beli vial.
  26. Prada Infusion d'irish : aromanya powdery-floral (bunga iris? saya belum pernah sniff bagaimana sih wanginya bunga iris)...kesannya seperti aroma sabun-bedak yang mewah dan menenangkan. Saya cukup suka, dan entah kenapa suka banget pake parfum ini waktu tidur...satu vial kecil cepat habis deh.
  27. Hugo Boss  orange : salah satu parfum vanila yang masih diterima hidung dan kulit saya. Aromanya menurut saya sexy yaaa tapi cepet hilang. Kalau dipakai bobo malam awet sampai pagi sih, tapi kalau dipakai pagi, ga sampai jam 12 siang sudah hilang.
  28. Anna Sui : saya pernah mencoba beberapa varian seperti Secret Wish, Romantica, Flight of Fancy (mumpung dapat vialnya). Aroma line Anna Sui yang saya coba mempunyai karakter  ringan dan fresh, tapi biasa bagi saya. Tidak menarik. Saya enjoy saja memakai vial yang ada tapi tidak ingin membeli ulang. Daya tahan buruk, hilang dalam 3 jam pemakaian.
  29. Dolce & Gabbana Rose the One : parfum ini sukses membangkitkan memori masa kecil akan parfum hadiah papa untuk mama yang sering saya buat main. Sepertinya aromanya mirip walau saya tidak yakin. Menyesal rasanya cuma membeli 1 vial karena setelah itu saya tidak berhasil mendapatkan lagi vial atau decant dari parfum ini. Aromanya rose, fresh, nggak asem, dan ada kesan seksi sedikit. Daya tahan cukup baik. 
  30. Dolce & Gabbana Rosa Excelsa : saya membeli vial rosa excelsa sambil berharap ada kemiripan dengan rose the one. Ternyata jauuhh...ga ada mirip-miripnya dengan rose the one, malah mirip banget dengan D&G floral drops. Bagi saya biasa saja, bisa dipakai tapi not my fav.
  31. Kenzo flower : nggak suka...jatuhnya kok aneh di kulit saya...seperti ada pesing-pesingnya ....
  32. Versace Bright Crystal : nggak cocok untuk kulit saya.. eneg ..
  33. Bvlgari Petits et Mamans : powdery, kayak aroma sabun bayi. Yang makai parfum ini Pio sama Deo hehehehe....sayang daya tahannya jelek.
  34. Chanel Chance : saya juga sukaa! Wanginya enak, berkelas,dan aweeettt banget. 1-2x semprot sudah cukup untuk wangi dari pagi hingga malam. Cukup 1 spray bagi saya karena kekuatan aromanya luar biasa. 
  35. Chanel Coco Mademoiselle : awalnya saya agak takut mencoba chanel ini karena kandungan vanilanya (masih teringat mual ketika mencoba vera wang princess). Tapi penasaran banget, akhirnya memberanikan diri untuk mencoba. Snif snif dulu di mulut spray-nya...aduh mak kok baunya ada mirip dengan vera wang ya? Batal spray si Coco saya simpan lagi di lemari. Setelah lewat beberapa minggu, saya nekat memakainya.....dan ternyata....hidung saya bisa menerimanya. Aromanya ternyata berbeda dengan vera wang. Vanilanya lebih halus dan mewah serta ada campuran wangi bunga. Daya tahannya? Jangan ditanya....awet pake banget.  Setelah 2x pakai, rasa-rasanya saya saya jadi lebih suka mademoiselle deh daripada chance.
  36. Stella Sheer 2010 : mmm ini salah satu scent rose yang ga cocok dengan kuit saya. Jatuhnya asem...
  37. Balenciaga L'eau Rose : top note nya oke, tapi saya tidak suka dengan aroma akhirnya...
  38. Givenchy Very Irresistible Intense : lumayan suka sama parfum ini. Saya selalu memakainya di malam hari.
  39. Elie Saab Le Parfum : butuh waktu yang lamaa sekali bagi saya untuk bisa memakai parfum ini. Awalnya saya mual mencium aromanya, dan baru 6 bulan kemudian saya bisa memakainya.
  40. Estee Lauder Pleasure : aromanya cukup tajam, kurang lembut bagi saya dan ada kesan asem di kulit saya kalau terlalu banyak spray.
  41. Guerlain Shalimar : Saya penasaran karena merupakan salah satu parfum legenda... dan..... hehehe hidung saya saat ini belum dapat menerimanya dengan nyaman. Unik sih, vintage dan rempah..
Tidak terasa telah cukup banyak line parfum yang saya coba walau sampai sekarang saya saya belum pernah membeli full bottle (yaahh..perkecualian untuk parfum pertama yang kayaknya lebih cocok dibilang cologne karena daya tahannya yang payah). Berita buruknya, parfum yang saya suka harga full bottle nya mahal banget : Chloe dan Channel.....hicks...
Suami sempat ingin membelikan full bottle Chloe (saya intip di on line shop harganya 1juta-an), tapi saya kok eman-eman..nanti saja kalau saya sudah lulus kuliah. hehehehe...
#mmm...mmmm...kalau Chanel gimana papa? wkwkwkwk...ngelunjak ini namanya...#


Senin, 29 Februari 2016

TPA (Tes Potensi Akademik) OTO BAPPENAS dan TOEFL

Hari ini jantung saya berdebar jauh lebih cepat dari biasanya,  deg-degan saat membuka website PPS UB untuk melihat pengumuman hasil TPA dan TOEFL yang saya ikuti tanggal 13 Februari lalu. Rasanya seperti kembali ke belasan tahun lalu saat  membuka halaman koran membaca pengumuman UMPTN.

## Flashback ##
Sebenarnya saya sudah membeli buku persiapan TPA dan Toefl sejak awal Desember 2015, baru dilihat-lihat beberapa halaman buku tersebut sudah terkotak di sudut lemari. Hehehe boro-boro belajar, bulan-bulan terakhir tahun 2015 adalah saat yang melelahkan bagi saya berkaitan dengan persiapan akreditasi rumah sakit. Awal Januari saya mulai memaksa diri untuk melakukan perkenalan awal dengan TPA, dan baru niat belajar setelah menyadari suatu kekeliruan yang rasanya cukup fatal. Karena tidak teliti, saya tidak sadar bahwa saya telah membaca hal yang salah terkait jadwal pelaksanaan TPA dan TOEFL (nggak memperhatikan tahun >_<). Baru ketika menghubungi petugas pasca sarjana UB sebagai panitia lokal TPA, dan si bapak berkata : "Hah, mana ada mbak jadwal TPA tanggal xx Februari (tanggal yang ada di otak saya), adanya tanggal 13 Februari..." Aduh.. gawat nih... itu berarti waktu yang saya miliki untuk mempersiapkan diri menghadapi tes hanya 3 minggu kurang. Kalau 3 minggu itu bisa full belajar kayak nya sih nutut, tapi tahu sendiri lah ....punya 2 buntut, sambil  bekerja pula...(kebanyakan alasan deh, salah sendiri nggak persiapan dari dulu---yang ini jangan dicontoh ya :p---).

Saya cukup beruntung karena Univ. Brawijaya telah bekerja sama dengan Oto Bappenas untuk menyelenggarakan TPA, jadi tidak perlu jauh-jauh keluar kota untuk ikut ujian.
Pendaftaran juga tidak perlu datang langsung ke kantor pasca sarjana. Saya  hanya menelepon kontak person panitia pelaksana dan diminta memberikan nomor HP yang bisa dihubungi untuk diinformasikan no. rekening pembayaran biaya tes. Setelah melakukan pembayaran, bukti transfer dapat dikirim ke panitia via email. Hari itu juga saya mendapat balasan email yang berisi kwintansi bukti pembayaran  yang harus saya print untuk dibawa saat hari H ujian. Di kwintansi tersebut juga tercantum benda-benda apa yang wajib dibawa seperti KTP / SIM sebagai bukti identitas diri, pensil 2B dan penghapus, dan untuk TOEFL ditambah pas foto  3x4 satu lembar.

TPA bagi saya adalah makhluk aneh dari dunia antah berantah, yang saya tidak tahu apa dan bagaimana nya, bahkan feel-nya pun nggak dapat. Mau tidak mau saya harus mulai berburu informasi, membaca pengalaman para senior yang telah bermurah hati membagikan pengalaman menempuh ujian TPA.
Sesuai dengan penjabaran berbagai ulasan, TPA terdiri dari 3 sesi yaitu tes kemampuan verbal (mulai dari mengartikan kosa kata serapan yang kebanyakan baru pertama kali saya dengar, sinonim, antonim),  tes kemampuan numerik (ini yang membuat saya kuatir berhubung kali terakhir menggunakan rumus matematika adalah saat UMPTN), dan terakhir adalah tes penalaran logika (kalau yang ini masih lumayan lah).

Dikarenakan masa persiapan yang cukup mepet, saya hanya berkonsentrasi dengan latihan soal di buku  TPA yang saya beli.
Buku ini lumayan bagus menurut saya, walau di bagian verbalnya ada beberapa yang ngaco. It's oke..Saya hanya mengambil kosa kata nya saja, sedangkan untuk mengartikannya dapat langsung dicocokkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tidak punya? Jangan khawatir, sudah tersedia versi web-nya yang dapat dengan mudah diakses. Semua kata yang terasa aneh bagi telinga dan kepala, selalu saya cari definisinya dan saya tulis. Saran saja, untuk memperkaya kosakata dan meningkatkan kemampuan pemahaman bacaan, rajin-rajinlah membaca Kompas. Entah memang selalu atau hanya kebetulan, materi bacaan ujian TPA saya kebanyakan diambil dari Kompas.

Persiapan tes numerik? Haduhh...bagian ini yang cukup membuat saya merasa panik. Otak rasanya blank. Hal yang sudah tidak pernah saya sentuh selama hampir 20 tahun...hu...hu...hu...
Seorang teman (satu kantor) memberi saya nomor kontak guru les yang dulu juga mengajari dia saat menempuh ujian TPA. Nomor itu masih saya simpan sampai sekarang alias tidak pernah saya hubungi. Bukannya merasa sudah pintar sehingga tidak perlu dibimbing guru, tapi saya kebingungan mengatur waktu (pagi sampai sore masih kerja, pulang masih harus ngajari Pio, belum Deo, belum belajar verbal, belum mengulang penalaran, belum persiapan toefl, belum.....wahahaha). Jadi daripada nanti kacau balau saya putuskan untuk belajar sendiri saja. Waktunya bebas suka-suka (mau tengah malam, mau pagi subuh boleh saja), dan nggak pakai sungkan kalau tiba-tiba ada halangan...
Yang menjadi guru selama proses merefresh pelajaran matematika adalah You tube. Saya banyak terbantu dengan berbagai macam video tentiran dan pembahasan soal matematika mulai deret hitung, persamaan kuadrat, rumus-rumus persamaan, perbandingan, bangun ruang, de es be....

Untuk tes penalaran / logika, tidak terlalu bermasalah bagi saya. Setelah mengingat kembali hukum-hukum logika matematika, saya bisa mengerjakan soal logika dengan hasil yang cukup oke.

Saya juga sempat men-down load soal latihan TPA yang free bahkan yang berbayar (harus beli).
Uummm mungkin saya yang tidak menemukan link yang bagus, tetapi semua soal TPA yang saya down load dari internet tidak memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Jauh lebih mudah mengerjakan soal internet daripada soal di buku...tapi lumayan lah untuk pemanasan.

Sehari sebelum ujian, di tengah-tengah acara hari itu saya sempatkan untuk mencari lokasi ujian. Walau saya berdomisili di Malang sekaligus alumnus Unibraw tidak menjamin saya tahu lokasi tes. Kampus tempat saya kuliah dulu telah banyak berubah wajah sekarang.
Sempat bertemu bapak koordinator TPA ketika bermaksud mencari ruang ujian (yang ternyata belum di tata saat itu), ditanya ini ujian TPA yang keberapa. Karena baru pertama kali, saya mendapatkan beberapa petuah yang cukup berguna
  1. Tenang, jangan panik, tinggalkan semua permasalahan di luar ruang ujian.
  2. Datang lebih awal sehingga punya waktu lebih jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan
  3. Sarapan dari rumah karena ujian akan berlangsung kurang lebih 3 jam non stop
  4. Sebelum ujian dimulai, jika dipersilahkan ke toilet berangkat saja kebelet tidak kebelet. Selama ujian berlangsung biasanya tidak diperkenankan ke toilet (dianggap selesai)
  5. Hati-hati manajemen waktu. Jangan tergoda untuk mengutak-atik soal yang sulit. 
  6. Langsung hitamkan jawaban, tidak usah pakai acara ditandai dulu (titik, strip kecil) atau arsir tipis. Tidak akan ada waktu lebih.
  7. Tidak ada sistem nilai penalti, jadi jawab semua soal.
 Hehehe serasa menerima wejangan dari seorang ayah ... terima kasih banyak ya pak....

Hari H ......
Ujian TPA dijadwalkan pk. 08.00 WIB, dan semua peserta diharapkan sudah hadir 15 menit sebelumnya.

Saya berangkat dari rumah +/- pk.06.20 seperti biasa, mengantar Pio sekolah untuk kemudian langsung ke Brawijaya. Dannnn... belum-belum saya sudah melanggar petuah no.1.
Saya amat sangat panik luar biasa (mau nangis rasanya...kenapa tadi nggak minta diantar saja), ketika mendapati diri terjebak di dalam lingkungan kampus Unibraw selama lebih dari setengah jam. Sudah sampai ke gerbang belakang  arah Soekarno Hatta ternyata gerbang ditutup dan saya harus memutar kembali keluar ke jalan Veteran. Hari itu ada wisuda besar di UB, di depan gerbang belum tampak ramai, tetapi di dalam luar biasa padat merayap (kecepatan lebih lambat dari kura-kura) dan diberlakukan 1 jalur, plus beberapa jalan kampus ditutup. Pk. 07.15 saya masih antri kemacetan di tengah-tengah UB.

Untuk mengurangi kepanikan, saya menelepon suami sekaligus meminta saran jalan mana yang harus saya ambil yang risiko kemacetan pagi hari lebih minim. Saran mengambil jalur memutari TMP saya ikuti (sementara suami akan menyusul dengan sepeda motor..jadi kalau terjebak macet lagi mobil akan saya tinggal dan bonceng sepeda ke lokasi ujian), dan syukurlah walaupun padat tidak sampai macet greg. Tiba di lokasi ujian pukul 8 kurang 20 menit,... Legaaa..area parkir masih kosong sehingga saya tidak perlu buang waktu lebih banyak lagi.
Ternyata oh ternyata waktu pelaksanaan ujian diundur. Pukul 08.00 , masih banyak kursi peserta yang kosong. Panitia TPA dari Jakarta mengumumkan bahwa panitia lokal banyak mendapat telepon dari peserta yang mengabarkan dirinya terjebak di area UB serta meminta kami bersabar menunggu  (rupanya banyak peserta yang mengalami nasib sama). 

Mendekati  pukul setengah 9, koper bersegel berisi soal TPA dibawa masuk (peserta sudah lengkap), soal-soal bersegel dibagikan, peraturan ujian dibacakan. Intinya saat tes verbal ya kerjakan verbal, saat numerik kerjakan numerik, dan demikian pula saat tes logika. Tidak diperkenankan membuka soal diluar yang diperintahkan (contoh tidak boleh mebuka soal verbal  ketika saat tes numerik berlangsung).

Tes verbal lumayan walau tetap saja ada kata-kata ajaib yang baru saya dengar hari itu. Yang bisa langsung saya hitamkan, yang tidak bisa atau ragu-ragu langsung lewat. Target  sesi bacaan harus selesai saat itu juga (dan kalau bisa bener semua). Selesai menjawab yang saya yakin bisa, giliran mejawab yang tadi masih ragu-ragu. Lima menit terakhir adalah waktu untuk menembak jawaban yang saya benar-benar tidak tahu (saat itu saya putuskan untuk menghitamkan opsi B untuk semua jawaban yang saya tembak).

Tes numerik...weh weh weh... saya memutuskan untuk menjawab soal cerita lebih dulu, karena berdasarkan waktu latihan soal jenis ini yang bisa membuat saya tenang. Kemudian lanjut soal seri gambar, soal deret matematika, mencari pola bangun ruang yang paling tepat, baru terakhir adalah soal akar, persamaan kuadrat, dan pecahan. Tiga puluh lima menit sebelum waktu habis mungkin saya baru menjawab sektar 1/3 soal saja...langsung panik...efeknya buruk : sempat blank untuk sementara. Setelah berhasil menenangkan diri --pasrah : nanti kalau nggak nututi ya dihitamkan B semua saja--, justru saya dapat menemukan beberapa soal yang awalnya saya pandang super rumit ternyata bisa dikerjakan tanpa perhitungan panjang. Wow ...ketenangan hati dan pikiran benar-benar pengaruh rupanya. Lumayankan tambah beberapa soal yang saya yakin jawabannya benar.

Tes logika ... karena paling PD, soal jenis ini yang paling lancar saya kerjakan.... :)

TPA selesai sekitar pukul setengah dua belas siang, dan kami harus mengisi form data diri serta amplop yang harus dilengkapi dengan alamat ke mana sertifikat TPA akan dikirim.
Yang menyenangkan...ternyata kami dapat makan siang... Horeeee....nggak perlu ke mana-mana untuk cari makanan sembari menunggu jadwal tes TOEFL jam 14.00 nanti. 

Bagaimana dengan TOEFL?
TOEFL sih sudah nggak asing ya karena semasa kuliah sarjana sudah pernah mengalami. Hanya saja, saya paling tidak PD untuk section listening....rasanya seperti mendengar suara orang bergumam-gumam nggak jelas...
Tes pendahuluan yang saya lakukan di salah satu lembaga swasta juga membuktikan hal yang sama. Point saya paling jeblok di listening, jadi dari total nilai 513 sumbangan nilai didominasi reading dan structure.
Saya memutuskan untuk mengambil kelas toefl preparation sebanyak 10x pertemuan yang saya kebut 2 minggu kelar, dengan konsentrasi utama meningkatkan kemampuan listening. Rencana saya : persiapan TOEFL akan saya lakukan di tempat les, sedangkan waktu di luar itu adalah jatah persiapan TPA.

Sabtu itu, saya pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Setidaknya beban saya untuk menempuh ujian TPA (yang utama nih) dan TOEFL sudah berlalu. Tinggal menunggu hasil yang bisa dilihat di website pasca sarjana UB pada hari Jumat tgl 19 Februari 2016 atau enam hari setelah pelaksanaan ujian. Sertifikat akan keluar kurang lebih 2 minggu setelah ujian. Pasrah. Jika ternyata hasilnya masih belum mencukupi persyaratan TPA minimal, setidaknya saya masih memiliki kesempatan 1 kali lagi mengikuti ujian TPA di bulan Maret.

Dan hari itu datang juga....
Walau sudah memantapkan hati menerima apapun hasilnya, debaran jantung ini tidak mau berkurang. Tapi mau ditunda sampai kapanpun  tidak akan merubah nilai yang telah dicapai, jadi ayo selesaikan secepatnya....

Syukurlah nilai TPA dan TOEFL yang saya peroleh lebih dari cukup...(terima kasih Tuhan...)



Selasa, 02 Februari 2016

Merangkai Buah

Dalam rangka ulang tahun rumah sakit yang ke 86 bulan Oktober lalu (udah lamaaa ya?), ada kegiatan menarik yang diadakan di depan ruang kerja saya : lomba merangkai buah. Seru karena ternyata teman-teman saya mahir mengutak-atik buah sehingga tercipta karya seni yang indah, juga mengasyikkan melihat berbagai macam buah segar dengan tampilan dan aroma yang menggoda iman perut :)..
Peraturan lomba  : biaya maksimal 200 ribu, pengerjaan dilakukan saat pelaksanaan lomba (hmmm waktu pengerjaan berapa lama ya...lupa --sudah lama berlalu sich--)...dan inilah beberapa hasilnya  :







Foto terakhir adalah pemenangnya...bagus bukan?

Sebenarnya masih banyak hasil karya yang lain tapi sayang hasil jepretan kamera HP saya gagal fokus (baca : buram).

Ada satu hal asyik lagi yang terjadi sebagai efek samping lomba merangkai buah ini : rujakan dan pesta buah...